Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Dinding Tosca Berdebu

Pada dinding tempat aku menulis namamu, biru tosca berdebu

Masih bergetar jemariku, menyentuh dinding itu

Mengusap coretan yang kian usang

Dan bingkai fotomu lusuh oleh waktu

.

Pada dinding tempat aku berbisik rindu, biru tosca berdebu

Suaraku menempel pada kusam dinding itu

Memudar warna tosca, warna rindu yang tua

Aku terbatuk menghirup debu dan siluet senyummu

.

Pada dinding tempat aku memanggil kisahku, biru tosca berdebu

Seluruh warna dan benda masih pada tempatnya, kecuali bayangmu

Ia semakin nyata dalam keheningan yang sempurna

Dan lagu-lagu tentangmu, nada yang sama menanti kabar kembalimu

.

Pada dinding tempat aku mengukir kehilanganku, biru tosca berdebu

Datanglah senja nanti seperti kau kemari kala senja itu

Masihkah dinding ini tak bisa mengantar pesan padamu

Dan segala yang kutulis berulang kali, huruf-huruf mati

.

Ataukah dinding itu telah palsu, biru tosca yang sama berdebu

Getar jemariku, getar airmataku mengusap debu pada namamu

Masihkah tosca itu dinding hatimu

Ataukah pudar warna yang tak pernah benar-benar dirimu

Kini sepertinya dinding itu wajah tosca yang baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Januari 2012 by in PUISI and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: