Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Searah Keraguan Di Kerlip Puisimu

Aku berusaha mencari rasa di kertas itu, yang sayangnya tak berwarna merah jambu. Mencernanya baik – baik dikepalaku. Mencoba meraba, apa yang kau ingin aku tahu.  Dengan keterbatasan otakku. Aku membacanya sampai di bilangan berpuluh.
Saat aku mencerna ini :

Pada kata hati yang menjadi puisi, aku menunggumu
Tiada henti menulis waktu hingga kau mengenaliku
Melukis sepi, merangkai rindu
Tak henti memaknai jarak pada bentang yang bisu

Ahh,.. Kau sungguh wanita yang pandai membahasakan hati. Setiap katamu merasuk dalam di sanubari. Melambungkan anganku di langit tertinggi. Membaca yang kau sebut penantian itu, seperti meneguk secangkir madu. Tapi aku ragu pada kata sepi dan rindu. Apakah kau yakin dengan ucapan itu. Atau hanya terbawa perasaan, yang….. entah apa itu ??? Sepertinya kita memang harus menunggu, karena perasaan mungkin saja menipu.

Jarak yang membentang sejauh hatiku-hatimu
Meski sesekali puisi lahir diantaranya
Jarak yang membentang pada barat-timur lanskapmu
Meski langit yang kita pandang masih sama birunya

Sayang sekali. Di hati, puisi telah aku kubur mati. tertutup rapat diantara serakan daun keladi. Karena selama ini, puisi selalu gagal mewakili hati. Hingga teronggok seperti mantera yang tak berarti. Aku ingin mengatakan, apa yang ingin kukatakan. Secara langsung tanpa perandaian. Karena aku hidup diantara orang – orang yang tak mudah faham. Tapi kau membuatku belajar lagi, untuk mengerti dan memahami maksud dari kalimat ini :

Aku arah barat daya pada kompasmu
Dan kau arah timur laut dalam hatiku
Walau namaku tak tercatat pada jauh perjalanan
Biarkan sekali saja jarum kompas itu diam
Menunjuk arah berkelipnya sebentuk perasaan

Sungguh aku ingin menjadi apa yang kau katakan. Dan aku ingin kau menjadi apa yang kau inginkan. Aku menjadi penunjuk arahmu. Dan kau ikut kearah yang kutuju. Lalu namaku dan namamu tercatat bersama dalam setiap lembar waktu. Tapi aku ragu. Karena langitmu, langitku, yang tak selamanya biru.

*Kolaborasi puisi sama Kak Abieomar*

*thanks for this poem*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Januari 2012 by in PUISI and tagged , , .
%d blogger menyukai ini: