Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

SEPASANG MATA REDUP YANG MENCINTAIMU

Aku tak tahu. Kenapa tiba-tiba saja kau menciumku. Mestinya kau basa basi dulu merayuku. Mestinya kau tanya dulu bagaimana perasaanku padamu. Matamu tajam. Dan kau selalu tahu aku hanya bisa bungkam. Berharap kau melesatkan kedua panah itu, untuk beberapa saat menatapku. Berharap suatu saat aku memiliki mata tajammu yang memandangku seperti itu setiap waktu. Dan mengenai ciuman itu, tak ada yang mengajariku untuk bisa menolaknya. Aku senang kau melakukannya padaku, meski aku berharap kau membisikkan cinta sebelumnya. Aku hanya mendapat setengah dari harapanku, tapi aku cukup bahagia.

Kau hentikan ciuman itu semaumu. Menyudahi terhentinya detak hati. Sekilas kau menatapku lalu mengalihkan tajam matamu pada jalanan dan cuaca. Aku masih tak mengerti. Kau duduk, menyalakan sebatang rokok, tak bicara. Aku duduk di sebelahmu. Mencoba menyadari aku baru saja mendapat ciuman hampa. Dan aku tak tahu apa yang mesti kukatakan setelah kau menciumku. Hingga akhirnya kau yang mulai bertanya.

“Kenapa tadi kau mau?” Aku hanya diam. Kau baru bertanya setelah melakukannya. Apa kau butuh jawaban? Bukankah kau tinggal menatap kedua mataku untuk mendapatkan jawabannya? Aku tak punya mata tajam sepertimu. Hanya sepasang mata redup yang memantulkan seluruh rahasia yang kupunya. Jadi, kenapa kau bertanya?

“Kenapa kau mau melakukannya dengan banyak orang? Kau suka yang seperti itu?” Oh,  kiranya kau sudah tahu aku perempuan macam apa. Seperti halnya mataku, tubuhku juga bukan rahasia. Seperti halnya mataku, aku hanya lampu redup karena rahasia yang dulu cahaya telah habis berpendar pada ruang-ruang gelap, pada mereka.

“Aku takut sendiri.” Jawabku pelan.

“Sampai kapan?”

Aku menghela nafas. “Mungkin sampai aku menemukan seseorang yang bisa kumiliki. Sampai aku tak pernah merasa sendiri lagi.”

“Menurutmu ada orang yang mau memilikimu? Memiliki perempuan yang sudah dipakai banyak orang?” Asap rokok yang kau hembuskan berbaur dengan berbagai pertanyaan yang menyesakkan. Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau mengharapkan jawaban indah, ataukah penjelasan yang memalukan dariku?

Aku kalah. Kau tahu aku akan kalah, bukan?! Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Sepasang mata redup milikku kian menunduk. Apa kau termasuk golongan orang-orang yang membenci perempuan sepertiku? Tapi kenapa kau peduli? Kenapa kau buang waktumu untuk menciumku, sehingga kau bisa bertanya: kenapa aku mau? Mestinya kau tanyakan saja pada dirimu: kenapa kau punya mata tajam itu?

Seandainya kau bisa memandangku sedikit lebih baik. Seandainya kau melihatku pada sisi perempuanku yang paling cantik. Mungkin kau bisa mencintaiku. Mungkin kau terlebih dulu memberikan setangkai bunga sebelum menciumku. Setangkai mawar harum dan kilatan cinta pada mata tajam itu. Meski mata redupku masih menyimpan harap, tentu aku tak berani begitu saja memandangmu. Mata tajammu itu diam-diam melukai mata redupku.

Karena aku tak punya mata tajam sepertimu, aku mencintaimu. Karena aku hanya punya mata redup yang lekat menatap kepergian demi kepergian. Dan kulihat kau pun juga bagian dari kepergian itu. Kau bagian terbesar dari kehilanganku. Kau bagian terbesar dari kebahagiaan yang ingin kumiliki. Dan tak pernah kumiliki, karena kau bersegera menuju perempuan itu. Perempuan yang melintas di ujung mataku yang tak bercahaya.

Dia tersenyum padamu. Matanya lebar dan berbinar ketika melihatmu, begitu cantik menunjukkan perasaannya. Matanya yang indah tentulah tercipta dari bunga-bunga. Dan kau datang padanya, membuang putung rokok yang masih setengah itu. Menyambutmu, matanya semakin bersinar, matamu semakin tajam, mataku padam terpejam. Airmata menandai telah habisnya harapan itu. Wahai yang sempat menghentikan detak hati, aku hanya keliru. Tadinya, ketika kau menciumku, kukira kau akan memilihku.

4 comments on “SEPASANG MATA REDUP YANG MENCINTAIMU

  1. Han-sangpencinta
    11 Februari 2012

    indah kata katanya…..i like,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Januari 2012 by in CERITA-CERITA and tagged , , , , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: