Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Kesempatan Terakhir

e941536c1cccad956f18dce2913dcf09-d4783fi

Aku kembali menahan kebencian itu. Menahan kebencian yang sebenarnya nyaris tak bisa kutahan. Kutatap mata cokelat indah milikmu. Pupil matamu membesar penuh harap. Semakin kutatap, semakin berpendar warna cokelat itu. Aku memalingkan muka, dan kau membisikkan lirih kata-kata. Kau menggenggam erat tanganku, dan suaramu nyaris tak terdengar olehku.

Aku tahu. Kau sangat lelah meminta maaf padaku. Dan kau pun tahu. Aku sangat lelah memaafkanmu. Segala perjuangan telah mencapai titik dimana kau mestinya berpikir dua kali sebelum meminta maaf padaku, juga aku mesti belajar sedikit demi sedikit untuk tak selalu memaafkanmu.

Kita sangat menyadari. Ada yang jauh berbeda pada cahaya lampu. Pada malam yang beku dan sinar yang bertebaran di langit itu. Ya. Kita sama menyadari bahwa kita tak bahagia pada akhirnya.

“Aku bodoh, Ai, maafkan aku,” Genggaman tanganmu melemah, dan kesedihanku semakin dalam.

Kau jelas melihat dari kedalaman mataku, tak ada sedikitpun harapan untuk tetap bertahan, selain satu hal. Aku telah begitu terbiasa memelukmu, menciummu, merebahkan segala kerisauan di pundakmu.

Maka untuk kesekian kalinya aku berkata ini kesempatan yang terakhir untukmu. Berulang kali aku mengatakannya meski sudah terlampau bosan. Aku merobek kalender juga setiap tanggal pada ingatan. Aku ingin kembali mencintaimu.

Tapi tidak hari ini. Karena kau berteriak memaki-maki.

“Aku bosan mengemis cinta padamu! Kau tahu, aku lelah dengan keras kepalamu itu! Aku jenuh karena kau selalu mempermasalahkan segala hal. Segala hal! Aku selalu salah. Dan aku sangat bosan!” Aku diam mendengarkanmu.

Kau menggebrak meja. Keras sekali. Tatapan matamu begitu menakutkan. Warna cokelat itu tak lagi indah seperti biasanya. Kau masih terus memaki-maki. Memuntahkan apa saja.

“Aku lelah selalu memohon untuk sekedar mendapat cintamu! Dan kemarahanmu, kecemburuanmu. Kau tahu, kukira kau mencintaiku apa adanya, ternyata tidak! Cari lelaki lain yang tak akan menyakitimu. Yang tak bosan mengemis untuk mendapat cintamu itu!”

Dan kau pergi. Setelah membanting ponsel dan mematahkan simcard dengan nomor yang kembar dengan punyaku. Malam itu, kau membuang apapun. Kenangan, kesempatan, cintamu, juga barang-barang pemberianku. Aku melihat dengan mata kepalaku. Kau begitu berusaha mengosongkan kepala juga hatimu.

Di saat seperti itu. Aku begitu ingat bagaimana kau meminta maaf padaku. Dengan tatapan terindahmu. Saat aku memberi kesempatan terakhir itu.

“Aku bodoh, Ai, maafkan aku,”

Kata-kata itu seperti berulang kali kudengar. Membisik berulang-ulang di kepalaku.

Dan tanganku menggenggam sebuah surat cinta. Dari lelaki yang baru saja meninggalkanku. Dia memberikannya lima bulan yang lalu. Waktu itu aku begitu manja memintamu membuatkan surat itu. Margin kanan-kiri atas-bawah satu senti. Harus tulisan tangan sendiri. Harus sangat jujur dan menyentuh. Harus sangat romantis. Harus sangat panjang dan rapi. Waktu itu kau menurutinya. Aku membacanya sekali lagi. Untuk yang terakhir kali. Lalu merobeknya hingga surat itu tak terbaca lagi.

 

30 comments on “Kesempatan Terakhir

  1. yisha
    3 Februari 2012

    duh,… bagus bangets….
    aku pedih bacanya….

    • Ida Ratna Isaura
      3 Februari 2012

      makasii Yisha🙂

      heheheh. . .
      aku emang suka nulis yang sedih2🙂

  2. Susu Segar
    3 Februari 2012

    aku jadi teringat waktu dlu . . . mirip sekali kejadiannya. . . . tapi ya sudah lah. . . itu dulu sekarang harus berbeda… lebih bisa menyingkapi apa yang terjadi

    • Ida Ratna Isaura
      5 Februari 2012

      oya😀 kebetulan banget😀

      yapz, harus segera berpindah ke keadaan yang lebih baik😀

      makasii kak uda baca🙂

  3. Falzart Plain
    4 Februari 2012

    kok saya merasa ini kenangan yang indah, ya?

    • Ida Ratna Isaura
      5 Februari 2012

      ha? kenangan yang indah??!
      hehehehehhe. . . . .
      dari sudut pandang mana dulu😛

      rencana nya sih, ini hanya fiksi,
      tapi banyak yang ngira iki kisah nyata
      jadi pasrah deh😀 hehe

      • Falzart Plain
        6 Februari 2012

        Indah BAAAAANGEEEEET!!!!
        Bagi si orang ketiga (kalau ada)…😆

      • Ida Ratna Isaura
        10 Februari 2012

        hahaha. . . .
        tebakannya sedikit benar😛

  4. mas gurit
    6 Februari 2012

    kesempatan terakhir seyogyanya ga disia2kan…
    krn blm tentu akan datang kesempatan yg sama lagi…
    hehe…tulisan yg bagus dan menyentuh…

    • Ida Ratna Isaura
      9 Februari 2012

      makasii mas🙂

      memang nggak semua orang bisa menggunakan kesempatan yang ada dengan baik🙂

  5. Gandi R. Fauzi
    9 Februari 2012

    Kesempatan terakhir itu kalau sudah sekarat mungkin ya??🙂

  6. dykapede
    10 Februari 2012

    Aku mau kesempatan itu bukan yang terakhir untukku, karena engkau tahu kasih sayang dan sikap baikku hanya untuk memikat hati baikmu *lagi mbaca novel*

    Salam🙂

    • Ida Ratna Isaura
      10 Februari 2012

      tapi terkadang hati baikku tak pernah cukup untuk bisa membeli sikap baikmu😛
      hehehehehehhe. . . . .

      salam kenal🙂

  7. elfarizi
    10 Februari 2012

    sekadar fiksi kah?
    sukses bikin galau nih kalau dibayangkan😦

    Salam kenal yaaa🙂

    • Ida Ratna Isaura
      11 Februari 2012

      iya kak, fiksi, hehehhe
      yang fakta cuma surat cinta nya doank, heheheh

      salam kenal juga kak Elfarizi🙂

      • elfarizi
        11 Februari 2012

        fiksi dengan sentuhan fakta😀
        sama-sama Ida🙂

      • Ida Ratna Isaura
        11 Februari 2012

        iya kak,
        saia suka nulis fiksi yang akarnya dari diri sendiri. . .
        jadi walaupun imajinasinya melayang2, tetap punya pijakan🙂

  8. Eko Wardoyo
    11 Februari 2012

    hwaaaaa saya jadi ingat sesuatu hal yang sama (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) tapi aku harus melupakannya

    /(^.^”) cerita yang bagus mbak ida, menyentuh sampai masuk kedalam hati

    Salam kenal ya🙂

    • Ida Ratna Isaura
      11 Februari 2012

      hayooo inget apa??? hahaha😀

      cuma fiksi kok😀
      aku suka nulis fiksi galau kak, hehe

      makasii iaah🙂
      salam kenal kembali🙂

      • Eko Wardoyo
        11 Februari 2012

        🙂 ceritanya mengena dalam hati – bagus mbak ida d(^o^”)

      • Ida Ratna Isaura
        12 Februari 2012

        makasiii kak apresiasinya😀

        salam hangat persahabatan🙂

  9. ronie
    11 Februari 2012

    acungan jempol untuk anda, saya salut dan kagum melihat tulisan-tulisan anda yg mayoritas keluar dari hati sehingga siapapun yg membacanya bisa ikut terbawa alur cerita😀

    • Ida Ratna Isaura
      12 Februari 2012

      terima kasih apresiasinya Kak Ronie🙂
      fiksi memang dekat dengan hati, hehehe

      salam kenal🙂
      terima kasih sudah berkunjung,

  10. iiz
    12 Februari 2012

    keren kaka,, aku suka..🙂

    • Ida Ratna Isaura
      12 Februari 2012

      makasii iiz cantik🙂

      salam kenal🙂
      terima kasih sudah membaca🙂

  11. offeir
    12 Februari 2012

    bagus nih fiksinya, fiksi kan? apa nyata? hahahaha…

    • Ida Ratna Isaura
      12 Februari 2012

      hehehehe. . . . makasii kak, fiksi kok😀

      surat cinta nya doank yang nyata😀

      salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 Februari 2012 by in CERITA-CERITA and tagged , , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: