Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Kesedihan yang Mencintai Kebahagiaan

Aku kesedihan dan kau kebahagiaan. Betapa aku mencintaimu. Kau senantiasa menemaniku. Membasuh luka-luka yang kutulis. Maka perlahan aku pun tertawa. Saat hadirmu meruntuhkan sepi dalam hariku, mimpiku. Saat gurauanmu mematahkan rumit pemikiranku. Kau logika dan aku hati. Ah, bukan! Kau logika yang norak dan aku hati yang tidak sombong. Protes? Baiklah, aku jujur. Kau mempesona dan aku sinting.

Aku suka dengan caramu bercanda. Aku mengamatimu yang tersenyum meski hujan belum juga reda. Diam-diam aku mengamati segala hal tentangmu. Apa yang membuatmu tertawa. Bagaimana kau tersenyum. Seperti apa kau bahagia. Aku ingin sepertimu. Aku mencoba menjadi seperti dirimu: sebuah kebahagiaan.

Aku meniru caramu tertawa. Aku meniru caramu memandang segalanya. Aku merindukan sebuah dunia yang melahirkanmu: bahagia. Maka kita pun tertawa bersama, meski tawaku tak sempurna. Dalam rinai hujan yang membasahi kita. Dalam malam yang menunda mata kita terpejam. Dalam bermacam nuansa, aku menyukaimu di setiap gelak tawa itu.

Lantas untuk apa aku dinamai kesedihan? Bukankah kini kita sama? Aku pun tak ada beda denganmu. Kau kebahagiaan dan aku kebahagiaan baru.

Aku mencoba menuliskan segalanya dengan bahagia, meski aku tak tahu bagaimana menuliskannya. Aku menyentuh tawa kita dalam ingatan. Aku meraba debar dan pipi yang bersemu. Inikah bahagia? Maka aku menuliskanmu untukmu. Apakah kau telah membaca kebahagiaan yang kutulis ini? Adakah kau merasakan kebahagiaanku serupa kebahagiaanmu?

Tapi aku seperti tak mengenalimu lagi. Bukankah kebahagiaan yang selama ini kutiru tak seperti itu. Hey, bukankah itu kesedihan? Itu, getir yang perlahan kau lukis. Luka yang diam-diam kau tulis. Dulu aku bernama kesedihan dan kau kerap mengusap getir dan luka yang serupa. Kini kau bernama kebahagiaan yang tak tersenyum seperti dulu. Kini kau seperti kebahagiaan yang tak jelas bagaimana kau bahagia. Berkali-kali, kau seperti lupa untuk tertawa.

Mesti bagaimana? Haruskah aku memanggilmu kesedihan lalu menghiburmu? Tapi aku belum jadi kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku tak tahu bagaimana cara membuatmu tertawa. Aku masih separuh kesedihan yang menyimpan beberapa genggam airmata. Jika kau sedih, bagaimana aku tertawa? Bagaimana kalau aku menangis lagi?

Lalu kau pun tertawa menepis ketakutanku. Mataku berbinar, tapi sebentar. Tawa kita tak berlangsung lama, dan matamu sewarna sendu. Hey, dari mana kau dapati kesedihan itu? Kebahagiaan macam apa jika seperti itu. Apa kesedihanku selama ini merusak kebahagiaanmu? Ataukah airmataku masih menempel pada jemarimu ketika kau mengusapnya waktu itu? Sehingga pada tubuhmu perlahan tercium wangi kesedihan seperti milikku.

Tapi sudahlah. Mungkin kau memang mengenal kesedihan itu dariku. Seperti halnya aku mengenal kebahagiaan darimu. Suatu ketika, tentu aku menangis lagi. Suatu ketika tentu aku menulis kesedihan lagi. Begitu pula kau akan tersenyum lagi, menjadi kebahagiaan yang selalu wangi gelak tawa, menjadi kekasih kesedihan yang setia. Suatu ketika mungkin kita akan sama menyadari. Akulah kesedihan yang sesungguhnya dan kaulah kebahagiaan yang sempurna. Akan ada waktunya dimana kita cukup jadi diri kita untuk saling mencinta. Aku kesedihan, kau kebahagiaan, dan kita tetap bersama dalam perbedaan yang menyatukan kita.

16 comments on “Kesedihan yang Mencintai Kebahagiaan

  1. FebriBlogs60v5
    24 April 2012

    Pertamanya dulu mbak,..😀
    Ijin baca dulu… Hehe

    • Ida Ratna Isaura
      1 Mei 2012

      hai Febri🙂
      terima kasih kunjungannya🙂

      pertamax diterima😀

      • FebriBlogs60v5
        1 Mei 2012

        kwkwkwkw …. udah selesai bacanya mbak … lama sih mbak nya nongol:mrgreen:

      • Ida Ratna Isaura
        5 Mei 2012

        hahaha. . . iya juga ya😀

        ijin baca sama ngasi ijinnya jarak se abad😀
        birokrasi. . . wkwkwkwk

  2. Eko Wardoyo
    28 April 2012

    saat kau tak melihat kesedihan maka kau tak akan melihat kebahagiaan – kesedihan akan pergi kebahagiaan akan datang seperti hal nya juga kebahagiaan akan hilang kesedihan akan muncul, trus terus terus dan terus seperti itu karena itu mereka adalah 2 hal yang saling melengkapi dan saling berbagi dan merasakan dan karena merekalah kau merasakan kehdiupan😀

    • Ida Ratna Isaura
      1 Mei 2012

      iya kak😀 hehehehe
      ini sengaja tak pisahin,
      tapi pada ujungnya mereka bersatu
      sebagaimana harusnya kebahagiaan dan kesedihan itu jadi satu🙂

      makasii kak😀 maaf baru sempat balas😀 hehe

  3. BIMA CETTA WIDYATAMAKA
    30 April 2012

    Kebahagian dan kesedihan hanyalah permainan pikiran, apakah bahagia itu ? apakah kesedihan itu ? sorry aku jadi seperti filsuf, semua karena asmaraman Sukowati ( Kho Ping Ho ) , anyway ajari aku nulis dong!

    • Ida Ratna Isaura
      1 Mei 2012

      hahaha. . . harusnya aku yang belajar nulis kak
      ni lagi galau gara2 tuisanku gag berkembang, hehehe

      yang jelas saia ini kebahagiaan juga kesedihan
      seperti halnya yang tertulis di judul blog saia,
      menyimpan kesedihan mengabadikan kebahagiaan karena aku adalah keduanya😀
      hehehe

      makasii kak🙂

  4. yisha
    2 Mei 2012

    manis bangetsssss………… 🙂

  5. Falzart Plain
    2 Mei 2012

    Aku bukan kebahagiaan, bukan pula kesedihan. Aku adalah perubahan yang mengubah segalanya. Akulah yang mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan dan mengubah kebahagiaan menjadi kesedihan. Aku taksuka melihat semuanya tetap begitu-begitu saja. Aku adalah perubahan. Ya, akulah perubahan yang kau lupakan.

    *orang ketiga*

    • Ida Ratna Isaura
      5 Mei 2012

      wah iya nih😀 hehehe
      orang ketiga yang sangat sangat penting. . .

      ketika kebahagiaan seperti lupa bagaimana cara tertawa,
      dan ketika kesedihan mulai tersenyum dan berharap🙂

      hidup selalu berubah🙂 terima kasih penjelasannya yang sangat menarik🙂

      • Falzart Plain
        7 Mei 2012

        orang saya nggak menjelaskan. Saya sedang merusak cerita nih…😆

      • Ida Ratna Isaura
        9 Mei 2012

        hahaha. . .😆 sepertinya kalo ceritanya rusak bakal jauh lebih menarik😀 wkwkwk

  6. oriie rianzy
    5 Mei 2012

    sungguh kehidupan yang mengerikan ? Hehehe

  7. cho youra a.k.a dinar sii moon'orchid
    11 Oktober 2012

    yyyaa aammmppyyuunnnn mbak terharu bacanya…ijin share ya nnti q kasih credit😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 April 2012 by in CERITA-CERITA and tagged , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: