Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Perempuan di Lorong Gerimis

i

Hari kembali gerimis. Rintik yang terdengar ritmis. Dari lorong itu, aku mengintip hujan. Derai yang menyentuh bunga dan pucuk-pucuk daun. Derai dan aroma basah di bawah langit mendung yang sama. Dari waktu ke waktu. Dan ribuan sepi yang kosong mengendap di pelupuk mataku.

Hari kembali gerimis. Dan senyumku telah lama beku. Aku mengendap pada udara. Menumpahkan dingin dan luka pada cuaca. Hari-hari yang panjang segera berlalu dan tanggal kian menua. Saat mereka membasuh ingatan, sedang aku abadi dalam kesunyian. Mereka sama lupa berapa lama aku disini menanggung sepi. Menatap gerimis yang tak kunjung reda dari balik jendela. Menatap daun-daun yang basah rindu. Basah rindu pada seseorang yang tak pernah kembali, dan aku memutuskan untuk tetap disini.

Akulah perempuan di lorong gerimis. Lorong dengan udara yang retak menanggung sepi. Bekas luka yang tercium basah, dan hujan mengguyur begitu dingin. Lorong ini indah tujuh tahun yang lalu. Saat wajah yang redup ini masih nyata. Saat aku masih memiliki nafas untuk menghembuskan banyak cerita. Nafas paling berarti yang kini telah berubah jadi luka yang beterbangan di udara. Menjadi anyir. Menjadi hampa.

Akulah perempuan di lorong gerimis. Lorong yang kini tak banyak dilewati. Lorong sebuah gedung yang tujuh tahun lalu hampir membuatku memperoleh gelar kebanggaan itu. Juga Bintang, sebuah nama yang menahanku disini. Sebuah nama yang membuatku memutuskan untuk tetap disini. Sebuah nama yang ternyata adalah segalanya. Dan kusimpan nafas terakhir itu disini untuknya.

“Aku suka Aurana. Bagaimana kau bisa mendapatkan nama secantik itu?” Katamu suatu ketika. Aku tersenyum setiap kali kau mengagumi namaku. Lalu kau akan menatapku seperti menatap bidadari. Matamu yang lekat dan tajam. Selalu, setiap waktu menghempaskan kenangan itu, hujan segera turun sebagai rindu.

“Aurana, tertawalah karena ini kampungan, tapi aku suka menuliskan namamu.” Lalu kau mulai mengukir nama itu pada dinding. Tujuh tahun lalu aku tertawa saat kau melakukannya. Tapi kini aku menangis. Nama itu masih tertera di dinding. Dinding sebuah lorong yang begitu sunyi. Nama itu kian lama kian menyiratkan sepi. Nama yang sendiri. Nama pada dinding yang menua, bercumbu dengan debu dan retak waktu.

Bagaimana mereka bisa menyebutku hantu, Bintang? Sedang aku hanya berusaha menjaga kenangan itu tetap pada tempatnya. Sedang aku hanya sebuah kesedihan yang telah meluruhkan nafasnya. Agar aku tetap dapat melihat ukiran nama itu. Agar aku dapat menatap ilusi yang sesekali tercipta. Aku percaya. Pada suatu detik yang entah setiap kali turun hujan, ilusi itu tergambar begitu nyata. Saat kau masih disini dan kita banyak tertawa, membasuh dingin bersama saat gerimis tak kunjung reda. Hingga suatu ketika, luka itu menghunus pada butir-butir gerimis paling tajam.

“Aku tak bisa menemuimu lagi Aurana.” Nafas pertama itu mulai luruh.

“Aku tak akan melupakanmu. Aku berjanji. Kita hanya tak bisa bersama lagi. Aku tahu ini tak baik untukmu Aurana. Ini juga tak baik untukku. Aku tak bisa berkata bahwa perpisahan ini yang terbaik untuk kita. Terkadang kita hanya bisa terpaksa.” Lalu wajahmu hening, katup pada dingin yang menghunus diantara kita. Nafas kedua itu luruh menghempas udara.

“Bagaimana jika aku menunggu?” Ucapku lirih diantara butir-butir keputus asaan yang runtuh mengaliri jemari.

“Jangan menungguku Aurana. Setelah ini kita akan jauh. Jangan menungguku. Karena aku tak akan datang seperti kemarin, seperti hari ini. Maafkan aku.”

Maka aku meluruhkan nafasku. Tak akan ada yang berpikir ini keputusan yang baik, Bintang. Seperti katamu, terkadang kita hanya bisa terpaksa. Dan inilah caraku melawan kesedihan itu. Inilah cara paling terpaksa yang kupunya. Aku hanya tak tahu. Aku tak bisa benar-benar memahami perpisahan itu.

Kekasihmu yang nyata telah begitu cemburu. Dia tak mengijinkanmu lagi bertandang pada lorong gerimis ini. Karena dialah kekasih nyatamu, Bintang. Bukan aku. Bukan Aurana.

Tapi kaulah kekasih paling nyata bagiku saat itu. Bahkan hingga nafas ini terhenti. Tahukah setelah detik-detik raga itu tak bernafas, aku telah disini. Menunggumu untuk datang kembali. Entah dengan penyesalan, kerinduan, atau sekedar kata maaf. Aku ingin membuatmu terpaksa kemari. Bertandang pada nafas yang melayang-layang memenuhi lorong. Bertandang pada nama yang terusap darah dan bau anyir paling merah.

Tapi kau tak kemari. Bahkan taruhan nyawa itu tak cukup membuatmu terpaksa mendatangiku. Taruhan nyawa yang omong kosong itu hanya berlalu. Berlalu mengendapkan kesendirian yang terlanjur begitu sia-sia. Bahkan aku masih menunggumu, meski tahun-tahun itu kian mengelupaskan ingatan tentangku. Apakah aku punya pilihan? Pilihan tak lagi ada di tanganku, karena aku sudah memilih, Bintang. Aku telah memilih untuk selamanya disini.

Aku tak tahu akan berapa lama, Bintang. Mungkin abadi. Yang kutahu, selamanya itu lama sekali. Aku tak tahu dimana ujungnya. Ujung dari selamanya. Sedang kesendirian meruncingkan kerinduan hari demi hari.

Dan hari pun kembali gerimis. Aku menatap hari-hari yang sama di balik jendela. Bunga-bunga yang kuncup hingga mekar. Daun-daun hijau yang mengecup angin hingga ia luruh. Seperti biasanya, tak banyak yang akan melewati lorong ini. Mereka akan tergopoh-gopoh sambil menahan bau anyir. Atau berlari-lari kecil sambil sesekali menoleh ke setiap sudut lorong.

Mereka membawa buku-buku yang tebal setiap harinya. Buku-buku yang dulu kubawa juga. Terkadang aku rindu untuk sekedar membukanya. Membolak-balik lembar lalu mendesah. Persis seperti mereka yang membuang nafas panjang setiap kali menutup buku itu. Dan mereka berlalu, buru-buru melewati lorong ini. Akulah bau anyir itu, Bintang. Bau anyir yang kian membuat lorong ini sepi.

Hingga pada kesekian ribu gerimis, lelaki itu berjalan melewati lorong. Tidak seperti mereka yang terburu-buru dan berlari. Lelaki itu kemudian duduk pada sudut lorong tempat namaku tertera di dinding. Dia mendesahkan nafas yang panjang dari bibirnya. Nafas yang begitu sempurna. Dan aku melihat nafas itu kemudian berbaur menjadi percik-percik bagian dari udara. Betapa indahnya sebuah nafas Bintang, andai aku masih memilikinya.

Dia bukan kau. Tapi kedatangan dan nafasnya cukup menghiburku. Aku mendatanginya. Mencoba menatap dari jarak yang lebih dekat dengannya. Kau tahu, dia seperti bisa merasakan keberadaanku. Dia menoleh pada udara. Aku tertawa.

Lalu mata tajamnya kemudian tertuju pada nama yang kau tulis di dinding itu. Aurana. Dia menatap lekat nama itu. Warna darah masih membekas, dan dia mengusapnya. Seperti meresapi sesuatu yang entah, dan mata tajamnya menangkap sepercik peristiwa. Dia menyalakan sebatang rokok. Asap dari rokok itu segera berbaur dengan bau anyir, bau retak udara.

Gerimis hampir reda. Lelaki berambut sebahu itu menoleh pada titik-titik hujan yang semakin jarang, lalu dia bangkit seraya membuang putung rokok tak jauh dari tempatnya duduk tadi.

Sejak itu, lelaki berambut sebahu kerap duduk di lorong anyir ini. Udara disini menyimpan darah. Udara di lorong ini kerap terasa lebih merah. Namun dia seperti tak peduli. Dia sepertinya suka berada disini. Seperti pagi ini, lelaki berambut sebahu itu kembali duduk di sudut lorong.

Dia menyalakan rokoknya yang kesekian. Dan kembali asap rokok itu masuk ke sela-sela retak udara yang anyir. Aku memandangnya. Dia memandang udara. Memandang setiap sudut lorong yang sepi. Hanya coretan nama berbalut darah yang sesekali menarik matanya untuk melihat.

“Arei. Ngapain kamu disini? Dosennya udah dateng tuh!” Seorang lelaki datang dari ujung lorong memanggilnya.

“Bentar lagi bro. Habisin rokok dulu.” Jawabnya singkat sambil menghempaskan asap dari mulutnya.

Oh, jadi namamu Arei. Salam kenal, Arei. Salam kenal dari aku yang tak mampu kau lihat. Dan bau anyir itu semakin pekat. Semakin memenuhi udara yang menyimpan darah. Kau rasakan bau anyir itu memenuhi paru-parumu. Lalu kau lekas menoleh, memandang arah yang entah, lantas bangkit menuju sebuah ruang kelas yang tak jauh dari lorong.

Aku selalu mengamatimu, Arei. Juga batang-batang rokok yang kau hembuskan dalam sepi. Pada suatu pagi atau sore kau akan kemari. Pada lorong gerimis ini. Sekedar menyendiri sembari menghabiskan beberapa batang rokok, atau membaca beberapa judul buku.

Lalu gerimis kembali mencumbu jendela juga bunga-bunga. Kau segera merapatkan jaketmu, dan sesekali mengintip dari balik jendela. Sama sepertiku, Arei. Aku telah begitu lama menatap gerimis itu. Bunga-bunga di luar mekar begitu indah, menampakkan mahkota paling cantik menyambut udara setengah beku. Dulu aku dan Bintang sama menatap bunga-bunga itu. Lorong gerimis ini tempat yang sempurna untuk menangkap pemandangan paling merona. Juga dingin yang menyusup dari arah mana saja. Menjadi nuansa. Bahwa sepi itu sesekali indah.

Maka setiap pagi atau sore, saat gerimis turun dan warna rindu pada mendung, kau akan kemari. Dan saat senja, udara semakin sephia, jaketmu yang berwarna coklat tua menyatu menjadi lukisan paling sendu di lorong ini. Kau menghempaskan kembali nafas itu hingga membentur udara atau jendela. Dan sunyi kian membumbung menuntaskan hari.

Sedang aku hanya bagian dari sepi, Arei. Aku hanya sebuah titik diantara rentang abadi dan ketiadaan. Bau anyir yang merindukan bunyi hempasan nafas. Sebentuk kesendirian paling bisu, paling merindu.

Namun sore ini Arei, setumpuk buku itu menyiratkan sesuatu. Kau membolak-balik lembar itu dengan wajah yang lelah. Sesekali kau hisap rokok di sebelah tanganmu dan hempasan asap itu terdengar lebih berat. Senja masih belum menurunkan gerimis, Arei. Warna sephia semakin menua, dan lorong kian sepi. Hanya kau dan bau anyir darah.

“Arei. Kok belum pulang?” Sapa seseorang yang melintas dari balik lorong.

“Bentar lagi. Baru mau pulang ya?”

“Iya Rei. Kuliah terakhir. Oya, good luck ya buat sidangnya besok.”

Dan kau menghamparkan senyum. Senyum yang disinari cahaya emas senja. Hari-hari terasa ringkas Arei. Tahun-tahun berlalu, dan kau tak akan berada disini lagi. Seperti Bintang yang tak akan kembali, kau juga perlahan akan melupakan lorong ini. Andai aku punya setitik airmata untuk kutumpahkan, Arei. Tapi kau akan bahagia setelah ini. Pasti. Dengan hari-hari yang lebih ramai.

Kau mulai mengemasi buku-buku itu. Bangkit lalu sekilas menatap seisi lorong. Aku tak punya sesuatu yang kumiliki untuk perpisahan, Arei. Hanya aroma. Bukan anyir kali ini, melainkan bunga. Aroma bunga yang pekat memenuhi paru-paru. Udara membukakan celah-celahnya untuk kuberikan wangi terakhir itu. Kau menghirup aroma itu berkali. Dan pada hempasan paling panjang, kau mulai melangkah pergi.

“Selamat tinggal, Arei.” Aku berbisik pada udara yang berbeda. Namun kali itu udaramu membukakan celahnya lebih lebar. Kau mendengarkanku. Kau mendengarkan suara lirih dari celah udara yang entah itu. Kau menoleh ke belakang. Tepat kearah udara. Lorong kembali bisu dan kau melanjutkan langkahmu.

Lorong semakin gelap, Arei. Warna senja yang menghitam menghamparkan kenangan-kenangan. Tentang orang-orang yang tak akan kembali. Tentang kesendirian yang lama sekali. Tak ada setitik gerimis hari ini. Dan setelah langkahmu tak terlihat, bau anyir paling perih memenuhi setiap sudut lorong. Aku Aurana. Sebuah nama yang tertera di dinding. Sebuah nama berbalut darah anyir.

Langit semakin menghitam. Aku mengintip dari jendela yang kelam. Bintang-bintang itu bersinar dari jarak paling jauh. Bintang yang meruntuhkan pendar cahaya. Meruntuhkan kenangan. Meruntuhkan nama. Esok hari-hari akan sepi kembali. Esok hari-hari akan jauh lebih sunyi.

images

5 comments on “Perempuan di Lorong Gerimis

  1. kangyan
    5 Maret 2013

    ceritanya keren banget…..

    • Ida Ratna Isaura
      22 April 2013

      makasii kak😀 hehehe. . .

      maap baru bales :”>

      • kangyan
        22 April 2013

        heee ga apa apa… kangyan juga sekarang jarang on….

  2. yisha
    7 Maret 2013

    kelam bangetsssssss……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 Maret 2013 by in CERITA-CERITA and tagged , , , , , , , , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: