Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Sepuluh Persen Cinta

free-facebook-timeline-valentines-day-Danbo-love-pictures-wallpapers-covers copy

“Gelang kampungan!”

Kau mengatakan itu beberapa detik setelah melirik gelangku. Oh, aku semakin benci saja! Ini memang bukan trend, memakai gelang kayu dengan ukiran bunga. Tapi beberapa orang memuji gelangku, bahkan mereka bertanya dimana aku membelinya.

“Berapa harganya?

“Delapan ribu.”

Kau lanjut mengomel dengan mengatakan bahwa seleraku menjurus murahan. Seperti suku di daerah pedalaman yang suka memakai barang-barang dari kayu. Aku sabar saja menghitung satu sampai seratus. Lalu menghitung seratus sampai satu. Setelah mengkritik lalu kau diam. Ah, kita selalu begini. Jarang bicara tapi sekali berkomunikasi langsung memancing emosi.

“Kau mau jadi pacarku?”

Serius?! Kau menyatakan cinta setelah mengkritik penampilanku? Lantas kau pikir aku mau jadi pacarmu? Hah? Kau yakin akan diterima?! Ini sangat menggelikan! Tapi aku memang mau jadi pacarmu. Kita berdua sangat menggelikan!

“Aku mau…”

“Thanks.”

Sebenarnya aku menyesal telah melakukan kebajikan yang membuat musuhku berterima kasih kepadaku. Dan musuhku itu berterima kasih karena aku menerimanya jadi pacarku setelah dia mengkritikku. Kau tahu, dia berterima kasih tanpa tersenyum seperti halnya lelaki yang bersyukur karena cintanya diterima. Dan aku juga tidak memasang ekspresi berbunga-bunga. Harusnya aku menduga akan seperti ini.

“Tapi sepuluh persen saja.”

“Apanya?”

“Status kita. Aku jadi pacarmu sepuluh persen saja.”

“Sembilan puluh persennya?” Kau sungguh sok lugu!

“Belum kuputuskan.”

“Jadi, contoh kasusnya begini: seumpama kita makan berdua, aku hanya harus membayar sepuluh persennya saja? Begitu?” Kau tersenyum tengik.

“Coba saja kalau kau berani! Ajalmu sudah dekat.”

“Hahaha…. Aku cuma bercanda.”

“Kenapa tidak lucu?!”

“Lucu kok….”

“Maksa!”

“Nggak boleh ya?”

Oh! Ya ampun bisa gila aku meladeni orang ini! Aku butuh bernafas. Aku butuh oksigen dalam jumlah besar untuk bernafas. Lalu aku butuh berteriak. Aku butuh berteriak memanggil nama seluruh superhero yang ada di televisi. Terutama ultraman. Aku butuh berteriak memanggil ultraman lalu ultraman datang dan menyinarinya dengan cahaya penghancur. Lalu aku menjadi wedding peach, berubah wujud menjadi bidadari berpakaian pengantin lalu memusnahkannya dengan senjata yang keluar dari sebuah cincin….

“Sabtu besok kau ada acara?”

Kenapa orang ini belum hancur?

“Sabtu besok aku pusing.”

“Baiklah, agar sabtu besok kau tidak pusing sebaiknya kau berkencan denganku. Aku menjemputmu pukul tujuh.”

Mulutku menganga. Lelaki tengik itu berlalu meninggalkanku dengan senyum setannya. Lantas aku segera berpikir. Apa-apaan ini? Apa motif musuhku ingin menjadi pacarku? Ah, mungkin dia ingin merasakan pengalaman, bagaimana rasanya berpacaran dengan musuh bebuyutan. Kiranya begitu.

Di saat-saat seperti ini, aku semakin merasa dendam. Aku ingat kau dan gerombolanmu itu selalu membully lelaki manapun yang ingin duduk disebelahku. Maka dari itu aku sering duduk sendiri di kelas. Jika aku menyukai seseorang, maka aku sendiri yang kena bully. Apa kau masih ingat kau melaporkanku ke wali kelas perihal coretanku di dinding tentang nama kakak kelas yang kusukai? Apa itu menguntungkanmu, membuatku tertekan sepanjang tahun? Ah, kau dulu memusuhiku saat aku masih belum punya otak. Tapi sekarang aku tidak bodoh, kau tahu?! Aku bersumpah! Jika kau ingin aku memaafkanmu, maka kau harus terlebih dahulu merangkak dengan lidah menjilat tanah baru aku mau!

*******

“Sha, kau sudah dengar kabar terbaru dari Ditra?” Mia, salah satu fans fanatik lelaki busuk itu mendatangiku.

“Kabar apa?”

“Aku diberi tahu Ucok, Ditra baru saja jadian dengan seseorang, tapi aku nggak tahu itu siapa. Ucok bilang itu rahasia. Kau tahu perempuan itu siapa?”

Jedar!! Bagaimana aku bisa lupa hal ini? Puluhan fans fanatik Ditra tentu saja akan menguburku hidup-hidup kalau mereka tahu akulah orangnya. Entah apa yang dilihat perempuan-perempuan itu. Mereka bilang Ditra lelaki berkharisma, misterius, tampan. Bisa dibilang dari semua teman perempuanku yang juga teman perempuan Ditra, semuanya secara fanatik menggilai Ditra. Aku mendadak pusing.

“Oh, aku nggak tahu.”

“Ah! Aku penasaran sekali! Jangan-jangan perempuan yang jadian sama Ditra itu Cherry. Kau tahu kan Cherry itu centil sekali! Kalau benar itu Cherry, bakal aku labrak dia! Kau mau ikut aku ngelabrak Cherry, Sha? Kita tampar dia rame-rame!”

Aku sesak nafas. Sialan! Lelaki busuk itu belum-belum sudah mendatangkan masalah! Kalau begini caranya aku harus minta asuransi! Aku harus meminta ganti rugi kalau-kalau umurku berkurang sekian persen gara-gara kemarahan para fans nya itu.

“Apa saja yang dikatakan Ucok padamu, Mia?”

“Ini rahasia. Kau tak boleh mengatakannya kepada siapa-siapa. Kata Ucok, Ditra menyukai perempuan itu sejak berusia sembilan tahun. Ah! Kalau begitu, pasti bukan Cherry donk Sha?!”

Aku diam.

Sembilan tahun? Aku mengingat potongan-potongan kenangan masa kecil sebisaku. Saat itu, Ditra masih sahabatku. Aku sering bermain dan menggambar bersamanya. Juga mewarnai gambar dengan spidol. Dulu, dia teman semasa kecil yang baik.

“Oia Sha, kata Ucok, dulu perempuan yang disukai Ditra itu menyukai laki-laki lain. Ditra menunggu sampai perempuan itu tidak menyukai orang itu lagi.”

Shit! Lelaki pengecut mana yang menyimpan perasaan selama itu, Ditra? Is that true? Kenapa nggak bilang dari dulu-dulu… Oke. Baiklah. Aku sedikit terharu. Tapi apa kau pikir, dengan mengetahui hal ini aku akan memaafkanmu, hah?!

Tapi aku memang memaafkanmu. Sepuluh persen. Aku memaafkanmu sepuluh persen saja.

4 comments on “Sepuluh Persen Cinta

  1. sunarno2010
    16 Desember 2013

    dengan sepuluh persen untuk modal balas dendam?

    • Ida Ratna Isaura
      12 Februari 2014

      sepuluh persen untuk nyicil cinta🙂

      terima kasih sudah berkunjung,🙂

  2. abieomar
    21 Januari 2014

    Sepuluh persen udah cukup banyak itu dik ! . Ceritanya bagus lho dik ,

  3. Ida Ratna Isaura
    12 Februari 2014

    kakaaaaaakkk. . .😀 terima kasiiiiihhh😀

    ayoooo nuliiiissssssss. . . .😉 *aku juga😀 ehehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 November 2013 by in CERITA-CERITA and tagged , , , , , , , , .
%d blogger menyukai ini: