Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Kesedihan Rimba dan Kebencian pada Penguasa

LUIS

Saya baru pertama kali membaca novel karya Luis Sepulveda dan beliau langsung masuk dalam list penulis favorit saya. Novel berjudul “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” merupakan novel yang membuat saya bersyukur pernah membacanya. Novel itu sebenarnya sudah lama ada di rak buku (entah bagaimana ceritanya bisa ada disitu), tapi baru beberapa minggu yang lalu saya tertarik untuk membacanya.

Kisah “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” diawali dengan karakter tokoh yang luar biasa menarik, yaitu Dr. Lubindo Loachamin, seorang dokter gigi yang bertugas di El Idilio, sebuah daerah di belantara Amazon. Dr. Loachamin benci pemerintah, dan ia kerap menyalahkan pemerintah jika ada pasiennya mengeluh kesakitan. Luis Sepulveda sangat ahli dalam meramu caci-maki sang dokter menjadi sangat retoris tak terbantah dan penuh kharisma seperti berikut ini:

“Tenang, idiot! Lepaskan tanganmu! Aku tahu sakit memang. Salah siapa itu? Ayo! Salahkukah? Bukan! Pemerintah! Camkan dalam batok kepalamu yang tebal itu. Salah pemerintah kalau gigimu bolong. Salah pemerintah kalau kau sakit gigi.”

*****

Kadangkala ada pasien yang jeritannya membuat takut burung-burung, dan ia tangkis catut itu agar tangannya gampang meraih pegangan parang.

“Bersikaplah jantan, banci. Aku tahu sakit memang, dan sudah kubilang salah siapa itu. Jangan salahkan aku. Duduk diam dan tunjukkan kau berani.”

“Tapi kau robek-robek jiwaku dokter….”

*****

Kemudian hadirlah Antonio Jose Bovilar, tokoh utama dalam novel itu. Antonio Jose Bovilar merupakan lelaki tua yang sudah lama hidup di pedalaman hutan amazon. Dia memiliki keahlian berburu yang didapatnya dari orang Shuar. Kisah cintanya yang berakhir kurang baik membuatnya menyukai novel-novel melankolis dan menyedihkan. Istrinya, Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo, tak bisa memberikan keturunan sehingga harus menerima cibiran dari masyarakat. Mereka kemudian pindah ke pedalaman hutan, namun sayangnya, Dolores kemudian meninggal karena malaria.

Antonio Jose Bovilar menghabiskan hidupnya bersama orang Shuar. Disana ia belajar berburu dan menikmati kebebasannya di hutan. Namun kedatangan orang-orang asing ke hutan untuk berburu, dan bahkan membunuh bayi macam kumbang yang baru lahir membuat murka induknya. El Idilio terancam oleh intaian macan kumbang betina. Sedangkan pak walikota, satu-satunya pegawai negeri yang ada disana hanyalah seorang lelaki korup yang tidak berguna. Sejak pertama datang, ia sudah dibenci semua orang. Ia gemar menaikkan pajak tanpa alasan yang jelas dan menjual ijin berburu di wilayah tak bertuan. Mayat-mayat kian banyak ditemukan di hutan, dan pak walikota tak pernah menjadi bagian dari solusi. Walikota yang tambun itu sejak awal adalah masalah, dan sampai kapanpun akan menjadi bagian dari masalah.

Antonio Jose Bovilar banyak menghabiskan waktunya dengan menyepi dan membaca buku. Dan dari buku geometri yang dibacanya, ia hafal satu kalimat yang senantiasa ia ucapkan saat suasana hatinya sedang tak enak: pada segitiga siku-siku, hipotenus adalah sisi seberang sudut siku-sikunya. Kalimat itu membuat ternganga penduduk El Idilio, yang menganggapnya semacam keseleo lidah yang ganjil atau sebuah guna-guna misterius.

Luis Sepulveda tak hanya mahir dalam menciptakan karakter tokoh yang kuat, melainkan juga sangat baik dalam selera humor dan ungkapan perasaan yang mendalam. Saya suka dengan kata-kata Nushino, salah seorang sahabat Antonio Jose Bolivar di akhir usianya:

“Aku tak bisa pergi dengan ikhlas, saudaraku. Sebelum kepalanya tergantung pada pancang aku akan mengembara seperti kakaktua buta, sedih, dan menabraki pepohonan.”

“Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah yang tak peduli nasib rakyat, juga terhadap kerusakan ekosistem dan lingkungan akibat ulah manusia. Novel ini memiliki detail yang mengagumkan, juga cerita dan pemilihan kata yang tak membosankan. Meski awalnya saya agak kecewa karena tokoh utamanya bukan Dr. Lubindo Loachamin, ternyata Antonio Jose Bolivar justru membawa saya pada petualangan-petualangan yang sangat menarik. Saya berharap dapat menemukan karya-karya Luis Sepulveda lainnya dengan kualitas sebaik novel ini.

One comment on “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Kesedihan Rimba dan Kebencian pada Penguasa

  1. helvry
    5 November 2014

    Novel ini memang top..saya juga sudah membacanya dan mereviewnya di sini:

    blogbukuhelvry.blogspot.com/2012/05/pak-tua-yang-membaca-kisah-cinta.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: