Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Bunga Kamboja

bunga-kamboja

Ada suatu masa dimana seorang anak bertanya pada bapaknya:
”Kenapa sih Pak, kampung kita ini dipenuhi bunga kamboja? Halaman rumah kita isinya bunga kamboja semua. Tetangga depan rumah juga. Sebelah kanan dan kiri rumah kita juga punya banyak bunga kamboja. Mestinya kita menanam bunga yang seperti ini.”

Anak gadis itu adalah aku. Tanganku menunjuk bunga paling indah yang tak kuketahui namanya. Aku sedang berada di rumah nenek dan halaman rumah nenek dipenuhi bunga-bunga yang enak dipandang. Setidaknya, tidak ada bunga kamboja disana. Aku selalu berpandangan, bunga-bunga mestinya tak sekedar menjadi lambang keindahan, tapi juga kebanggaan dan karakter. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika bunga yang ditanam di tiap-tiap rumah itu berbeda sesuai dengan karakter pemilik rumahnya.

Tapi kenyataan memang menyebalkan! Jangankan bisa rajin menyiram bunga, melihatnya saja kadang merasa mual. Kenapa harus kamboja, selalu kamboja, dimana-mana kamboja, dan setiap hari kamboja?

”Ibu sih, nggak pernah beli bunga. Kalau ada bunga tetangga yang bagus dan banyak yang mekar pasti diminta. Jadinya kan begini, satu kampung bunganya sama.”

”Bunga kamboja ini dulu Bapak minta dari Hendro. Pada saat itu memang sedang musimnya bunga kamboja.”

”Loh, bukannya Ibu yang minta ke tetangga depan rumah, ya Pak?”

”Bukan. Jadi ceritanya begini, Hendro itu punya hutang ke bapak seratus lima puluh ribu, tapi nggak dibayar-bayar. Bapak mikir, wah, bagaimana ini? Punya hutang kok nggak dibayar-bayar. Akhirnya Bapak minta saja bunganya.” Aku tertawa terbahak-bahak mendengar cerita yang tidak lumrah itu.

”Tapi Pak, bagaimana bisa hutang duit dibayar pakai bunga kamboja?” Aku bertanya sambil tertawa.

”Ya mau bagaimana lagi, wong nggak dibayar-bayar. Pada masa itu bunga kamboja harganya mahal. Tidak seperti sekarang, bunga kamboja tidak ada harganya. Dulu, Hendro menanam banyak bunga kamboja di halaman sebelah rumahnya. Sampai akhirnya ada orang yang mau menawar empat juta setengah. Nggak dikasih. Ndilalah, besoknya, bunga kamboja itu dijual sudah tidak laku!” Aku dan Bapak sama-sama tertawa.

”Loh, kok bisa Pak, harganya mahal tapi mendadak tidak laku? Lagi pula, kok bisa bunga kamboja harganya mahal? Memangnya siapa yang mau beli bunga kamboja? Ha-ha-ha!”

”Dulu itu banyak yang nyari! Sampai-sampai pada saat itu banyak yang berburu informasi, tempat orang yang menjual bunga kamboja, dan stok nya ada berapa. Dan itu rahasia. Teman sendiri saja tidak dikasih tahu, takut kalau diserobot. Ya memang tiba-tiba saja begitu. Tau harga bunganya mahal, banyak yang ingin beli. Akhirnya setelah orang-orang sudah banyak yang punya, ndilalah, bunga kamboja itu jadi tidak ada harganya.”

Aku dan Bapak tak henti-hentinya menertawakan nasib bunga kamboja. Sekaligus penasaran dengan nasib Hendro, tetanggaku. Rugi sih pasti iya, tapi kagetnya itu yang agak mengenaskan.

”Lalu, dikemanakan bunga-bunga kamboja punya Mas Hendro itu, Pak?”

”Ya karena sudah tidak laku dijual, akhirnya ditawarkan ke tetangga-tetangga. Barangkali ada yang mau, ambil saja tidak usah bayar. Itu juga sempat disindir sama tetangga: dulu bunga harganya mahal, dibeli orang tidak mau. Sekarang walaupun dikasih gratis aku tidak sudi!” Kami masih saja tertawa.

Setelah mendengar cerita Bapak tentang bunga kamboja itu, aku jadi kasihan juga. Bunga yang jarang disiram tapi mekar dengan sendirinya. Hanya untuk hidup demi memberi keindahan, tapi malah dicibir karena rasa bosan. Bunga yang malang itu memang bukan seleraku, tidak mewakili karakterku, tapi biarlah ia indah sebagaimana adanya. Mekar menyambut matahari yang kadang terlalu terik memancarkan sinar. Daun-daunnya banyak yang layu, namun bunganya masih banyak yang mekar. Meskipun sesaat, kiranya ia pernah menjadi bunga yang dipuja. Dan meski kecintaan orang semakin banyak berkurang, dari waktu ke waktu bunga kamboja tetap sama indahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 Oktober 2014 by in Uncategorized and tagged , , , , .
%d blogger menyukai ini: