Ida Ratna Isaura

Menyimpan Kesedihan Mengabadikan Kebahagiaan, Karena Aku Adalah Keduanya

Rumah Kiara

sakura-anime-friendship-76319873488

”Sudah kukatakan! Dia bukan perempuan yang baik. Tapi kau tidak percaya padaku!” Kiara terlihat sangat kesal. Dia sudah mengomel hampir satu jam, tapi masih juga tak bisa lepas dari topik bahasan yang sama. Aku hanya sesekali tersenyum. Sahabatku itu sedang cemburu padaku, dan aku memberikannya hak untuk memarahiku.

”Sampai saat ini, aku masih tidak bisa percaya, kamu lebih memilih bersahabat dengannya daripada bersahabat denganku!” Ya Tuhan. Dia mengatakan kalimat itu sudah lima kali. Kenapa dia berpikir mengatakan kalimat itu sebanyak empat kali masih belum cukup?

”Selama berminggu-minggu, kulihat kau melewati depan rumahku tapi hanya lewat saja. Aku tahu kau sedang menuju rumah sahabatmu itu. Aku sampai berpikir, apa salahku selama ini? Kenapa kau tidak datang kemari, tapi malah pergi ke rumah perempuan itu? Aku benar-benar terluka….”

Aku sebenarnya sedang menahan tawa. Tidak enak kalau aku tertawa disaat Kiara melampiaskan kekesalannya padaku. Bahkan disaat dia sedang marah, dia masih saja lucu dan kata-katanya penuh drama. Sebenarnya, justru ini yang kusukai darinya. Dia tidak pernah berpikir dua kali untuk mengatakan apa saja, dan kejujurannya selalu terasa menghibur.

”Sekarang, aku ingin kamu jujur padaku! Menurutmu, lebih cantik mana antara aku dan sahabatmu itu!” Oh… Dia semakin menjadi-jadi…

”Cantikan kamu…” Di saat-saat seperti itu, tentu saja aku malas mengambil resiko.

”Kalau sudah tahu begitu, lalu kenapa kamu lebih memilih berteman dengannyaaaa??!!!” Aku diam saja. Aku memang memberikannya hak untuk marah. Dia sedang kuperbolehkan untuk memarahiku sesukanya.

”Dan menurutmu, lebih gaul mana antara aku dan sahabatmu itu??!!” Pertanyaan kembar ini membunuhku. Kalau selanjutnya masih ada banyak pertanyaan kembar seperti ini, aku bisa kesurupan.

”Lebih gaul kamu…”

”Tentu saja! Lalu kenapa baru sekarang kau menyadari hal itu, haaahh??? Memangnya sahabatmu itu tahu apa itu Linkin Park? Selama ini kita berdua selalu menyukai hal yang sama. Kita sama-sama suka dengan Linkin Park. Aku suka Chester Bennington, dan kau suka Mike Shinoda. Aku selalu mengingat itu dalam hatiku….”

Dua bulan terakhir, aku memang dekat dengan Fitri. Kukira, Fitri memiliki informasi-informasi yang kubutuhkan mengenai sesuatu. Demi informasi itu aku mendekatinya, dan ternyata kami cocok. Baru seminggu yang lalu kuketahui dari teman yang lain, bahwa Fitri banyak berbohong mengenai informasi itu. Dia mengaku tahu banyak hal padahal sebenarnya hanya mengarang cerita. Mengetahui hal itu, tentu saja sikapku langsung berbeda. Aku menjauhinya, dan sepertinya Fitri merasakan perubahanku.

”Maafkan aku, Sa…. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku hanya ingin berteman, tapi Kiara sepertinya tidak suka aku berteman denganmu. Maka dari itu aku berpura-pura tahu tentang informasi yang kau butuhkan agar kau mendekatiku.” Itu kata Fitri beberapa saat yang lalu.

Kini, Kiara yang ada di depanku, dan memang seperti ini lah kenyataannya. Aku kembali menemuinya setelah dua bulan menjauhinya. Selama dua bulan itu, dia pasti sedih sekali. Kehilangan orang yang selama ini selalu ada untuknya, dan menjadi satu-satunya sahabat terdekatnya.

”Selama ini, aku sampai menulis banyak cerpen, tapi kau belum membacanya!” Kiara menyodorkan sebuah buku yang tak asing padaku.

Membaca cerpen Kiara? Bayangkan saja FTV atau sinetron remaja yang chibi-chibi. Di tengah-tengah cerita, pasti ada percakapan seperti ini: apakah benar Nicko mencintaiku? Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja….

Kadang Kiara juga menulis cerita tentangku. Aku suka tulisan-tulisan yang ia buat untukku. Sudut pandang yang ia gunakan untuk menggambarkan diriku lekat persahabatan.

*****

Ini sudah bertahun-tahun aku tidak mengunjungi rumah Kiara. Meski kini semakin banyak polesan di wajahnya, tapi dia tidak berubah. Keadaan yang berubah. Aku melewati rumahnya suatu pagi, dan tiba-tiba saja dadaku berdegup kencang. Rumah itu seperti rumah sederhana yang kuimpikan. Rumah yang terasa hangat oleh cahaya keemasan matahari pagi. Dulu, pagi-pagi sekali Kiara sudah menelponku untuk datang ke rumahnya dan selalu kutolak.

”Tidak mungkin aku kesana pagi-pagi. Aku masih ngantuk!”

”Baiklah, kutunggu nanti siang. Pokoknya kamu cepet mandi dan jangan tidur lagi, ok?”

Saat ini, aku sungguh penasaran, bagaimana rasanya ada di rumah Kiara pagi-pagi? Bagaimana rasanya cahaya matahari di rumahnya. Apakah sama dengan di tempat lain? Suatu saat, aku ingin rumah dengan cahaya matahari keemasan seperti rumah Kiara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 Maret 2015 by in Uncategorized and tagged , , , , .
%d blogger menyukai ini: